Jumat, 02 Maret 2012

Macam-macam kebudayaan asing

Tari India
Tari Balet
Tari Perut (Bellydance) - Arab

Kepulauan Indonesia, pada zaman kuno terletak pada jalur perdagangan antara dua pusat perdagangan kuno, yaitu India dan Cina. Letaknya dalam jalur perdagangan internasional ini memberikan pengaruh yang sangat besar pada perkembangan sejarah kuno Indonesia. Kehadiran orang India di kepulauan Indonesia memberikan pengaruh yang sangat besar pada perkembangan di berbagai bidang di wilayah Indonesia.

Hal itu terjadi melalui proses akulturasi kebudayaan, yaitu proses percampuran antara unsur kebudayaan yang satu dengan kebudayaan yang lain sehingga terbentuk kebudayaan yang baru tanpa menghilangkan sama sekali masing-masing ciri khas dari kebudayaan lama.
Pengaruh Budaya Vietnam bagi budaya bangsa Indonesia pada Masyarakat Prasejarah Indonesia

Masuknya kebudayaan asing merupakan salah satu faktor yang membawa perubahan dalam kehidupan masyarakat di Indonesia. Kebudayaan tersebut yaitu Kebudayaan Dongson, Kebudayaan Bacson-Hoabich, Kebudayaan Sa Huynh, dan Kebudayaan India. Kebudayaan Dongson, Kebudayaan Bacson-Hoabich, Kebudayaan Sa Huynh terdapat di daerah Vietnam bagian Utara dan Selatan.

Masyarakat Dongson hidup di lembah Sungai Ma, Ca, dan Sungai Merah, sedang masyarakat Sa Huynh hidup di Vietnam bagian Salatan. Ada pada tahun 40.000 SM- 500 SM. Kebudayaan tersebut berasal dari zaman Pleistosein akhir. Proses migrasi ke tiga kebudayaan tersebut berlangsung antara 2000 SM-300 SM. Menyebabkan menyebarnya migrasi berbagai jenis kebudayaan Megalithikum (batu besar), Mesolitikum (batu madya),Neolithikum (batu halus), dan kebudayaan Perunggu. Terdapat 2 jalur penyebaran kebudayaan tersebut:

  1. Jalur barat, dengan peninggalan berupa kapak persegi
  2. Jalur Timur, dengan ciri khas peninggalan kebudayaan kapak lonjong. Pada zaman perunggu, kapak lonjong ditemukan di Formosa, Filipina, Sulawesi, Maluku, Irian Jaya.

Berikut ini beberapa contoh akulturasi budaya di Indonesia:

1. Akulturasi budaya China – Indonesia.

a. Wayang Potehi

Kesenian ini mirip wayang golek (wayang kayu), namun cerita yang ditampilkan berasal dari legenda rakyat tiongkok, seperti Sampek Engthay, Sih Djienkoei, Capsha Thaypoo, Sungokong, dll

b. Bacang

Dahulu bacang diyakini orang China adalah makanan untuk menghormati seorang pahlawan yang mati akibat difitnah orang bentuk peringatan adalah makan bacang (Hanzi: 肉粽, hanyu pinyin: rouzong) Panganan ini terdiri dari daging cacah sebagai isi dari beras ketan dibungkus daun bambu dan diikat tali bambu. Di beberapa tempat di Indonesia, diadakan festival untuk memperingati sembahyang bacang atau yang biasa disebut juga Duan Wuji.

c. Festival Pehcun.

Atraksi yang menjadi maskot festival ini adalah perlombaan balap perahu naga. Duanwu Jie (Hanzi: 端午節) atau yang dikenal dengan sebutan festival Peh Cun di kalangan Tionghoa-Indonesia adalah salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Tiongkok. Peh Cun adalah dialek Hokkian untuk kata pachuan (Hanzi: 扒船, bahasa Indonesia: mendayung perahu). Walaupun perlombaan perahu naga bukan lagi praktek umum di kalangan Tionghoa-Indonesia, namun istilah Peh Cun tetap digunakan untuk menyebut festival ini.

Festival ini dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek dan telah berumur lebih 2300 tahun dihitung dari masa Dinasti Zhou.Dan perlombaan dayung perahu naga. Karena dirayakan secara luas di seluruh Tiongkok, maka dalam bentuk kegiatan dalam perayaannya juga berbeda di satu daerah dengan daerah lainnya. Namun persamaannya masih lebih besar daripada perbedaannya dalam perayaan tersebut.

Tak hanya etnik saja yang sudah berasimilasi, aspek lain juga ikut berasimilasi: Makanan

Contoh: Lunpia semarang, isi utamanya adalah irisan kulit rebung sedangkan lunpia yang dari China isi utamanya mihun.

2. Akulturasi Budaya Islam Hindu dan Budha.

Masih banyak akulturasi budaya Indonesia, budaya Hindu-Budha dan Budaya Islam yang mempengaruhi berbagai aspek yang lain di dalam seni tari dan musik, seni ukir, seni lukis dan seni wayang dapat kita lihat saat ini bahwa kebudayaan

Hasil Akulturasi. Islam serta unsur-unsur budayanya di Nusantara merupakan hasil akulturasi antara budaya Islam dengan Hindu-Buddha yang lebih dulu ada di Nusantara. Beberapa contoh antara lain Seni Bangunan Seni sastra. Prasasti- prasasti awal menunjukkan pengaruh Hindu-Budha di Indonesia, seperti yang ditemukan di Kalimantan Timur, Sriwijaya, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Sansekerta dan huruf Pallawa. Kalender

Yakni dengan pendekatan pada masyarakat pribumi dan akulturasi budaya percampuran budaya Islam dan budaya lokal. Dakwah mereka adalah dakwah kultural. Banyak peninggalan Walisongo menunjukkan, bahwa budaya dan tradisi lokal mereka sepakati sebagai media dakwah. Dahulu di Indonesia mayoritas penduduknya beragama Hindu dan Budha, dan terdapat berbagai kerajaan Hindu dan Budha, sehingga budaya dan tradisi lokal saat itu kental diwarnai kedua agama tersebut.


sumber : http://hadi27.wordpress.com/pengaruh-budaya-asing-bagi-budaya-bangsa-indonesia/
http://divaronero.wordpress.com/2010/10/08/akulturasi-budaya/

OPINI

Tidak hanya kaya dengan budaya dalam negeri saja, namun Indonesia juga banyak mendapat pengaruh dari budaya luar. Karena negara Indonesia terletak dalam geografis yang strategis. Namun ada baiknya kebudayaan dari negara lain tidak membuat budaya Indonesia sendiri jadi hilang. Karena inilah identitas Indonesia yang kaya akan seni. Meskipun sekarang sudah banyak dan marak dengan pertunjukkan kebudayaan dari negara lain, Kita sebagai penerus generasi bangsa harus bangga dan melestarikan budaya warisan nenek moyang kita.

0 komentar:

Posting Komentar

Please Leave Your Comment :)