Selasa, 17 Januari 2012

LDR: (L)amanya (D)irimu Me(R)antau


By: Widyawati (@Widyaahw)
My True LDR story with Hasannudin (@Hasaanhw)



Kisah LDR ku bermula ketika aku CLBK alias (Cinta Lama Belum Kelar) dengan mantanku (red: cinta pertamaku) sejak SMP. Setelah lebih dari 4 tahun terputus komunikasi karena terpisah sekolah, karena dia lanjut SMA dan aku lanjut SMK. Aku kembali bertemu lagi dengannya dan merajut kembali kisah cinta lama dengannya ketika memulai pertemanan di jejaring sosial kepunyaan Mark Zuckerberg.

Awalnya bermula dari friend request dari profile facebooknya. Lalu aku tersentak kaget melihat akun facebooknya. Aku tak percaya bisa ketemu dia lagi meskipun hanya lewat dunia maya. Aku jadi ingat 4 tahun yang lalu. Ketika aku berkisah asmara dengannya disaat masih cupu-cupunya dan masih polos bak anak ingusan. Aku pun meng-confirm friend request dia.

Setelah aku berteman dengannya di facebook. Ia mulai sering menyapaku lewat wall. Ia menanyakan kabarku. Ia juga meminta maaf padaku atas kesalahannya di masa lampau. Tapi aku hanya bisa membalasnya, bahwa aku sudah memaafkan dia dengan ikhlas dan sudah tidak mempermasalahkan kesalahannya yang dulu. Anggap saja itu pembelajaran untuk masa depan. Aku merasa seperti mulai dari nol lagi untuk dekat kembali dengannya. Seperti baru kenal saja. Ia sangat kaku padaku. Aku tak menyangka ternyata bertahun-tahun tidak ketemu sangat mempengaruhi komunikasi. Wall demi wall antara aku dengannya terukir sudah di facebookku menjadi sebuah ukiran sejarah baru dalam hidupku. Hmm mungkin dia ingin lebih dekat lagi denganku, dengan cara meminta no handphone ku. Tanpa pikir panjang, aku kasih aja. Ya hitung-hitung buat teman sms biar ga kesepian.

Saat aku pendekatan dengannya adalah ketika masa-masa kelulusan SMK. Disaat hari pembagian surat kelulusan, ada dia yang menemaniku menunggu surat yang tak kunjung datang. Ya meskipun hanya bisa menemani lewat sms. Tapi ini sudah cukup membuatku senang. Ia sabar banget meladeniku yang bawel dan ga sabaran menunggu. Tiap kali aku mendumel, ia selalu menasehatiku dengan sabar. Seketika hatiku jadi tenang dan senang. Ternyata masih ada yang mempedulikanku.


Hubunganku dengannya jadi semakin dekat, sms demi sms pun tak bosan ia kirimkan padaku. Mulai dari sekedar ngucapin "Met pagi" atau "Met bobo" hingga akhirnya ia berkata "Gue penasaran sama lo yang sekarang kaya gimana ya? Jadi pengen ketemu." Nah loh! Kayaknya ini pancingan buat ngajakin ketemuan nih. Ternyata benar, gak lama kemudian dia ngajakin aku ketemuan. Padahal dia masih sibuk ngurusin ospek kuliahnya. Tapi entah kenapa, akhirnya aku bisa bertemu dengannya. Ia ngajakin aku ke rumahnya. Lalu kita ngobrol-ngobrol. Banyaaak banget hal yang kita obrolin. Tak terasa kekakuanku selama ini ke dia ternyata merenggang juga. Ternyata dia makin asik juga orangnya. Entah kenapa aku jadi tertarik dan kagum sama sosoknya yang menghibur dan kharismatik. Aku rindu masa-masa SMP ketika bersamanya. Ah aku jadi mengharapkan cintanya seperti yang dulu. Tapi, apakah mungkin? Aku memendam perasaanku yang sudah terkubur bertahun--tahun lamanya dan ternyata membongkarnya lagi. Hingga aku merasakan seperti pertama bertemu. Ah aku jatuh cinta lagi padanya. Ketika aku bertemu dengannya, aku selalu curi-curi pandang dengannya. Begitupun dia, selalu menatapku dengan tatapan yang membuatku melting. Ohmaigaatt, inikah CLBK??

Setelah ketemuan yang pertama, berlanjutlah ke pertemuan-pertemuan selanjutnya. Hingga pada pertemuan yang ketiga, ia ternyata menyatakan perasaan cintanya padaku. Ohmaigaaat, sungguh luar biasa. Bertahun-tahun berpisah darinya, kini aku harus memulainya lagi? Dan disaat aku harus terpisah jarak dengannya. Ini adalah suratan nasib cintaku. Entah aku harus bersyukur atau menyesalinya. Cinta memang tak mengenal jarak, meskipun jauhnya tak bisa diukur. Aku dengan senang hati menjalani kisah perjalanan cinta jarak jauh dengannya. Mengukir kisah asmara yang indah bersamanya.

Semenjak aku jadian dengannya, lebih tepat cilebek. Aku menjadi makin sayang dengannya. Aku sangat bersyukur bisa memiliki seseorang yang mampu memahamiku apa adanya. Ia bukan hanya sekedar pacar buatku. Tapi aku menganggapnya kekasih, sahabat sejati dan bahkan seorang suami untukku. Ia selalu memberiku nasihat padaku yang masih labil. Menyenangkan sekali memiliki seseorang yang berpikiran dewasa dan selalu membuatku bahagia.

Aku tau, disetiap hubungan pasti takkan berjalan mulus. Pasti selalu ada batu kerikil yang merintanginya. Begitupun dengan hubunganku dengannya, dibalik kemesraan kami ternyata ada masalah yang sering membumbui hubungan kami. Mulai dari masalah sepele hingga masalah serius. Namun dengan kepala dingin dan dengan pemikiran yang dewasa, akhirnya semua masalah dapat terselesaikan. Dan kami tetap melanjutkan kebahagiaan ini dengan penuh rasa optimis. Bahwa kami akan tetap terus bersatu meskipun jarak menjadi penghalang.

Dan disaat tahun ajaran baru mulai, aku berpisah dengannya. Aku harus bersabar selama 4 tahun terpisah jarak dengannya karena kampus kami berbeda. Aku di bekasi, dia merantau di kota hujan, bogor. Selama masih ada komunikasi, aku percaya padanya. Aku belajar banyak hal dari hubungan jarak jauh ini:

·        Pertama, uang jajan makin boros karena pengeluaran pulsa lebih banyak. Karena LDR ga bisa lepas dari komunikasi. Baik itu lewat telepon, sms, chatting ataupun facebook. Tapi selama masih bisa menyikapinya, pasti pengeluaran tidak terlalu boros. Seseorang yang bener-bener cinta juga pasti akan mengorbankan yang satu ini untuk tetap bertahan.

·        Kesetiaan, kejujuran dan kesabaran benar-benar diuji. Meskipun cinta kita ada di tempat yang jauh. Pasti banyak godaan yang datang dari tempat yang paling dekat. Untungnya rasa cintaku padanya tak tergantikan oleh yang lainnya. Meskipun terkadang kegalauan sering menghantuiku.

·        LDR meskipun jarang bertemu, tapi akan menjadi waktu yang sangat berharga bila bertemu. Kerinduan yang sudah menguap di kepala pasti akan menjadi kebahagiaan dan kepuasan tersendiri jika bertemu. Meskipun hanya sebentar.

·        Dan lain-lain. Hehe :D

Harusnya mereka yang bisa bersama tanpa terpisah oleh jarak dan waktu bisa lebih bersyukur. Tidak seperti aku dan para LDR-er lainnya. Namun aku tak pernah menyesalinya. Aku rasa LDR ini adalah sebuah hubungan yang spesial. Aku begitu miris bila melihat teman-temanku yang masih banyak yang bisa selingkuh, walaupun mereka bisa bertemu setiap hari. Tidak seperti aku, meskipun aku LDR, aku bangga, dan aku tak pernah ada niat sedikitpun untuk selingkuh. Aku sangat setia pada pasanganku. Meskipun ia jauh nun di sana. Meskipun ia tak terpantau olehku. Namun kepercayaan ini tetap kokoh di hatiku. Aku bangga dan bersyukur bisa menjalani LDR ini dengan sempurna. Dan aku sangat sangat berharap hubunganku ini bisa berujung ke ikatan suci pernikahan nanti. Aku ingin sesukses para LDR-er lainnya. Yang akhirnya berjodoh setelah berpisah jarak selama bertahun-tahun. Semoga Allah meridhoi hubunganku. Aamiin.

Ingatlah teman, bahwa perpisahan itu tak menyakitkan, perpisahan itu hanyalah kebersamaan yang tertunda. Jarak dan waktu hanyalah pengukur perbedaan antar wilayah di belahan bumi ini. Namun, demi masa depanku dan masa depannya, aku rela berpisah dengannya. Asalkan cinta ini masih terbungkus oleh kesetiaan, kejujuran, kasih sayang, kesabaran dan pengorbanan. Aku percaya bahwa dibalik bungkus itu, terdapat cinta sejati yang takkan pernah berakhir. The true love story is not a happy ending, but never ending...

1 komentar:

Davids mengatakan...

Mengharukan... :')

Posting Komentar

Please Leave Your Comment :)